Published On: Thu, Aug 20th, 2015

Lambatnya Ekonomi Membuat Kurs Rupiah Terhadap Dollar Menurun

Share This
Tags

menko-perekonomian-optimis.172

BERIMBANG.COM – Saat ini, banyak yang menyampaikan rasa pesimistisnya terhadap kinerja perekonomian Indonesia. Kondisi menurunnya kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), ditambah perlambatan ekonomi yang ada, membuat semua orang was-was.

Lalu bagaimana direktur utama tiga bank BUMN terbesar di Indonesia melihat situasi saat ini?

Hal itu akhirnya terbuka saat tiga dirut bank BUMN itu menyampaikan sikapnya dalam forum dialog yang digelar Taruna Merah Putih (TMP), organisasi sayap PDI Perjuangan.

Forum yang diselenggarakan di Kantor DPP TMP, Menteng, Jakarta itu, bertema “Peluang dan Tantangan Ekonomi Indonesia Sekarang dan 2016”.

Peserta acara ini adalah Gubernur BI Agus Martowardoyo, Ketua OJK Muliaman Hadad, Wamenkeu Mardiasmo. Hadir juga Ketua Umum HIPMI Bahlil Lahadalia, dan Waketum Kadin bidang Perbankan dan Keuangan Rosan P. Roeslani. ‎

Selain itu, ada Dirut BEI Tito Sulistiyo, Ketua DPP PDI-P Hendrawan Supratikno, Dirut BNI Baiquni, Dirut Mandiri Budi Sadikin, Dirut BRI Asmawi, pengusaha Erwin Aksa, pelaku ekonomi seperti perwakilan dari Real Estate Indonesia dan INSA, pengamat ekonomi, politisi, dan aktivis gerakan mahasiswa.

Dirut Bank Mandiri, Budi Gunadi Sadikin mengatakan, kondisi Indonesia saat ini dibandingkan tahun 2008 lalu adalah jauh lebih baik.

Saat krisis 2008, pasar saham jatuh, namun kali ini tidak. Dengan kurs yang jatuh, obligasi pemerintah masih diminati, terbukti dengan imbal 8-9 persen berbanding dobel digit di masa dahulu.

Dahulu, inflasi jatuh ke angka dobel digit, sementara saat ini tidak, lanjut Budi. Sementara Credit Default Swap yang dulunya ribuan persen, kini hanya 100-an persen.

“Dulu likuiditas minta ampun susahnya. Dolar kering kerontang. Sekarang banyak semua. NPL perbankan 2008, masih 4 persen, sekarang 2 persen. Kondisi lebih jelek kayak gitu di 2008, bank tutup cuma dua. Bank Indover dan Bank Century. Itu bank jelek sekali. Insya allah, kali ini bank takkan tutup,” tutup Budi mengenai pandangan soal kondisi Indonesia saat ini.

Dirut Bank BNI, Ahmad Baiquni, menegaskan bahwa cukup banyak kebijakan yang dikeluarkan oleh Bank indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan, dan semuanya positif merespons kondisi saat ini.

Misalnya, BI tak menaikkan BI rate, yang sebelumnya selalu menjadi resep apabila kurs rupiah tertekan.

“Kali ini BI agak bijak, ada cara lain. Antara lain, operasi pasar membeli USD, tanpa underlying berbatas 25 ribu. Kalau dulu 100 ribu. Ini hal positif, paling tidak demand bisa dikendalikan,” kata Baiquni.

“Begitu juga OJK mengeluarkan respons positfi. Namun mungkin masih perlu kebijakan lain. Bagi kami, BI dan OJK selalu memanggil dan mendengarkan kami,” tambah dia.

Ke depan, dia mengusulkan agar sikap hati-hati perlu dikedepankan. Plus ditambah berbagai kebijakan yang mendorong pertumbuhan ekonomi.

“Yang pasti, jangan ragukan kondisi perbankan. Kondisi perbankan saat ini beda. Dulu cadangan tipis, sekarang rata-cara di atas 100 persen, CAR di atas 16 persen,” kata Baiquni.

Sementara Asmawi Syam, Dirut Bank BRI, mengatakan, sebagai bank yang mengurusi rakyat kecil, pihaknya bisa melihat bahwa di tengah klaim perlambatan ekonomi, pertumbuhan kredit rata-rata di atas 10 persen. Dan di micro finance, yakni masyarakat di daerah, angkanya bahkan mencapai 17-18 persen.

“Artinya ekonomi kita di desa tak terpengaruh krisis. Kalau orang di desa ditanya kurs, dia tak mengerti. Pokoknya dia tetap beraktivitas. Mungkin yang beda adalah daya beli masyarakat. Ini yang kalau boleh agar terus dijaga,” jelas Asmawi.

Kata dia, BI, OJK, maupun Kementerian Keuangan, sudah komit menjaga pertumbuhan itu agar tetap tinggi.

Pemerintah juga masih memberikan subsidi Kredit Usaha Rakyat (KUR). BRI yang terlibat di dalamnya baru saja melaksanakan launching program itu.

“Pemerintah hari ini memberi likuiditas kepada pelaksana KUR. Lewat BRI nilainya RP 21 Triliun, sisanya Rp9 Triliun itu lewat bank lain. Kita harap, akhir tahun Rp21 Triliun itu habis. Kita harap bisa naik angka kredit jadi 18-19 persen,” kata Asmawi.

Dia memastikan pihaknya kerap diajak berdiskusi oleh BI dan OJK mengenai situasi saat ini. Diharapkan selalu ada pembaruan kebijakan, semisal soal restrukturisasi kredit, yang bisa makin mendorong pertumbuhan kredit usaha.

“Kita tahu hari ini, perbankan likuiditasnya bagus dan terjaga. Saya ibaratkan kita pesawat siap take off, menunggu cuaca bagus karena kondisi cuaca memang lagi buruk. Pilihannya ada dua. Kita terbang dengan cuaca buruk, atau menunggu cuaca baik lalu take off,” kata Asmawi.(sp)

About the Author

Leave a comment

You must be Logged in to post comment.