September Hitam, BEMNUS DKI Tagih Janji Reformasi: Dorong Reformasi Total dan Merdeka 100 Persen
JAKARTA — Badan Eksekutif Mahasiswa Nusantara (BEMNUS) DKI Jakarta kembali menyerukan pengawalan agenda reformasi pada momentum September Hitam 2026. Mereka mengajak mahasiswa dan masyarakat sipil menjaga ingatan terhadap berbagai peristiwa kelam bangsa sekaligus mendorong penyelesaian persoalan demokrasi, hukum, hak asasi manusia (HAM), dan kesejahteraan rakyat.
Koordinator Daerah BEMNUS DKI Jakarta, Sandroin Labada, mengatakan September tidak semestinya hanya menjadi momentum mengenang tragedi masa lalu. Menurut dia, berbagai peristiwa tersebut harus menjadi pembelajaran agar negara tidak mengulangi kesalahan serupa.
“September Hitam mengajarkan kita bahwa bangsa yang melupakan sejarah akan mudah mengulangi kesalahan yang sama. Karena itu, bagi kami mahasiswa, melawan lupa adalah bagian dari perjuangan,” ujar Sandroin dalam keterangan tertulis, September 2026.
Istilah September Hitam selama ini digunakan oleh sejumlah kelompok masyarakat sipil untuk mengenang berbagai peristiwa kelam yang terjadi pada September. Di antaranya Tragedi Tanjung Priok 1984, Tragedi Semanggi II 1999, pembunuhan aktivis HAM Munir Said Thalib pada 2004, tragedi Salim Kancil pada 2015, serta gelombang gerakan Reformasi Dikorupsi 2019.
BEMNUS DKI Jakarta menilai agenda reformasi tidak cukup dimaknai sebagai pergantian kekuasaan. Mereka mendorong reformasi diwujudkan melalui penguatan demokrasi, supremasi hukum dan sipil, pemerintahan yang bersih, penghormatan terhadap HAM, serta pemenuhan hak-hak masyarakat.
Sandroin menyebut agenda tersebut sejalan dengan seruan Reformasi Total dan Merdeka 100 Persen yang telah digaungkan BEMNUS DKI Jakarta sejak September tahun lalu.
“Sejak September tahun lalu, BEMNUS DKI Jakarta telah menyuarakan Reformasi Total dan Merdeka 100%. Hari ini kami kembali menegaskan bahwa perjuangan tersebut belum selesai,” katanya.
Menurut Sandroin, konsep Merdeka 100 Persen yang dimaksud organisasinya bukan semata-mata kemerdekaan secara simbolik. Ia mengaitkannya dengan akses masyarakat terhadap keadilan, pendidikan, kesejahteraan, ruang demokrasi, kepastian hukum, dan pemerintahan yang dinilai berpihak pada kepentingan rakyat.
Menagih Janji Reformasi
BEMNUS DKI Jakarta juga menyoroti sejumlah agenda yang menurut mereka masih perlu diperkuat pemerintah, mulai dari pemberantasan korupsi, reformasi birokrasi, supremasi hukum, penghormatan HAM, supremasi sipil, hingga perlindungan kebebasan akademik dan kebebasan berpendapat.
Mereka menegaskan tidak ingin reformasi hanya menjadi slogan politik yang kembali muncul menjelang momentum tertentu.
“Kalau reformasi adalah janji sejarah, maka generasi hari ini punya tanggung jawab untuk memastikan janji itu tidak dikhianati,” ujar Sandroin.
BEMNUS DKI Jakarta menyatakan gerakan mahasiswa akan tetap mengambil peran sebagai kekuatan moral, intelektual, dan kontrol sosial terhadap jalannya pemerintahan. Mereka menyebut pengawalan dilakukan melalui kajian, konsolidasi, advokasi, serta aksi yang disebut konstitusional dan damai.
Sandroin memastikan organisasinya akan terus menyuarakan agenda Reformasi Total dan Merdeka 100 Persen.
“Selama masih ada ketidakadilan, selama masih ada ruang demokrasi yang harus dijaga, maka mahasiswa akan tetap hadir,” katanya.
Dalam seruannya, BEMNUSANTARA DKI Jakarta mengajak mahasiswa dan elemen masyarakat sipil menjadikan September Hitam sebagai momentum refleksi dan konsolidasi, bukan untuk membangun kebencian maupun melakukan kekerasan.
Mereka menegaskan gerakan tersebut diarahkan untuk menjaga ingatan kolektif, mengawal demokrasi, serta mendorong agar agenda reformasi tetap berjalan.
BEMNUSANTARA DKI Jakarta menutup seruannya dengan tiga pesan: melawan lupa, mengawal reformasi, dan memperjuangkan Merdeka 100 Persen.
Iik











