Bulan: Oktober 2020

Bogor

PWI Kota Bogor Gelar OKK, Walikota: Pemkot Bogor Siap Bersinergis

BERIMBANG.comPersatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Bogor menggelar Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Hotel Bogor Valley pada Sabtu (31/10/2020). Dengan tema “Memahami produk jurnalistik, menjalankan kode etik ditengah kemerdekaan pers”. OKK diikuti puluhan wartawan Kota/Kabupaten Bogor. Jawa Barat.

Ketua PWI Kota Bogor Arihta Utama Surbakti mengatakan, hari ini baru kali pertama digelar kembali OKK oleh Kota Bogor dan di masa pandemi, mudah-mudahan tidak mengurangi secara kualitas, karena nanti ke materi yang akan tampil secara esensi berkaitan dengan organisasi PWI dan dengan dengan organisasi profesi wartawan tidak diisi oleh orang-orang yang dalam tanda kutip.

“Karena itu ada ujian yang harus dijalani dan merupakan syarat mutlak. Saya harap teman-teman yang ditunjuk saat ini dan ikut serta teman-teman yang sudah bekerja di media mainstream. Sehingga tidak kesulitan dalam menulis berita. Semoga teman-teman tidak ada kesulitan dalam OKK,” ungkap Ari.

Ari menambahkan, sehingga nantinya teman-teman wartawan mengetahui apa itu manfaat dan untuk apa di PWI Kota Bogor. Jadi tidak asal masuk, yang terpenting adalah teman-teman mengetahui adanya Peraturan Dasar (PD) dan Peraturan Rumah Tangga (PRT).

Sementara itu, Wali Kota Bogor Bima Arya mengatakan, dirinya ingin sedikit fokus pada ulasan tentang persamaan atap antara wartawan dan politisi. Karena pekerjaan itu terbagi dua, yaitu satu orientasinya pada pencaharian dan pekerjaan pengabdian.

“Sepanjang sejarah politisi dan wartawan masuk dalam pengabdian. Saat orang bercita-cita menjadi politisi dan wartawan orientasi sejatinya kepada pengabdian. Dalam sejarah terjadi irisan politisi menjadikan jurnalis menjadi sarana perjuangan. Tidak sedikit juga jurnalis menjadi politisi dan berkiprah dipolitik,” ungkap Bima.

Bima menjelaskan, dalam perjalanan banyak hal berbeda karena tantangan yang cenderung bergeser kepada mata pencaharian. Dari mulai kiprah awal dari pendahulu politisi dan wartawan marwahnya dijaga sampai diujung.

“Karena mereka berhasil menjaga idealisme dan pragmatisme, wartawan idealisme tapi owner-nya Politisi karena bisanjadi wartawan hatinuraninya A tapi perintah owner B bertentangan dengan owner. Kadang juga ada kejadian karena kerabat, teman sodara dan kolega. Mereka menitip berita karena kepentingan dan cair,” jelasnya.

Bima memaparkan, tidak mudah sekarang politisi dan wartawan diancam sektarian, promodia serta Suku, Adat, Ras dan Agama (SARA). Banyak politisi memainkan isu SARA, tetapi harus ada kemampuan media menjadikan edukasi secara presisi.

“Jangan sampai yang penting eksis dahulu. Masalah akurasi dan fakta belakangan. Kalau tidak mampu berkreasi termakan arus, bagaimana dunia digital mengancam televisi besar ini menunjukkan inovasi kreasi. Bagaimana mana ada Narasi televisi saat ini,” paparnya.

Bima juga mengusulkan, dengan adanya OKK ini bisa menjadikan bagaimana media menjadi pilar demokrasi. Kalau ada kepala dinas manipulasi asal base nya nurani dirinya dukung temen-temen kritis, tetapi kalau teman-teman wartawan bermain saya bela kepala dinas.

“Insya Allah godaan, tantangan dan peluang sama antara politisi serta wartawan. Karena itu ada penguatan kapasitas PWI Kota Bogor, sama hal nya seperti lurah, camat dan kepala dinas diupgrade. Makanya kompetensi ideal itu 40 persen dan karakter 60 persen. Karena itu saya selalu bercerita tokoh-tokoh pemimpin saat briefing staff,” tuturnya.

Bima berharap kedepan wartawan Kota Bogor menjadi wartawan idealis. Dirinya apresiasi dibawah Arihta Utama Surbakti bukan sekedar berdiri, tapi berlari kelihatan dari aktivitas dan kegiatan yang ada.

“Mudah-mudahan Kota Bogor akan mengorbitkan legenda jurnalis. Pemkot Bogor siap bersinergis,” pungkasnya.

Ditempat yang sama, dirinya secara pribadi memberikan pandangan bahwa wartawan yang ada dan sebagai salah satu penyampai informasi bagi masyarakat dalam bentuk berita tapi bisa mengedukasi dan mengubah pemikiran masyarakat.

Menjaga norma-norma moral, bahwa seorang wartawan harus bisa mengemas bahasa agar informatif dan tidak menyinggung yang kurang berkenan dimasyarakat.

“Harus menjaga kesehatan dan keselamatan, selamat menempuh OKK,” tuturnya. (*)

Jabodetabek

Petugas Gabungan Tertibkan Cafe Yang Jual Miras, Salah Satunya Cafe Sebrang Hotel Uli Artha

BERIMBANG.com, Depok -Dalam rangka memberikan rasa nyaman dan aman kepada masyarakat, petugas gabungan TNI, Polri, Satpol PP dan Dishub Kota Depok melaksanakan kegiatan penertiban dibeberapa tempat yang disinyalir menjual miras.

Cafe yang terletak didepan Hotel Uli Artha menjadi sasaran razia petugas, sebanyak 75 personil gabungan diterjunkan dalam razia kali ini. Pasalnya keberadaan cafe yang membuat warga resah karena penjualan miras dan diduga tidak memiliki izin.

Ditemui disela kegiatan, Kabid Penegakan Perda Satpol PP Kota Depok, Topik menyampaikan, Hari ini kegiatan razia penertiban cafe dan panti pijat yang beberapa waktu lalu rame diberitakan media

“Kami saat ini kami sita KTP seluruh pegawai yang ada di TKP dan kita sita seluruh miras yang ada, nanti dikantor kita proses. Untuk para pegawai, yang kedapatan tidak kami kumpulkan satu titik mengingat masih dalam pandemi Covid-19.” ujar Topik. Kamis (30/10/2020)

Terkait perijinan, Topik menjelaskan pihaknya akan mendalami ada tidaknya ijin operasional

“Kami akan tidak lanjuti lebih mendalam dikantor terkait izin usaha baik cafe dan panti pijat, saat ini pengelolanya tidak ada disini cuma ada pegawai dan pelayan cafe dan kita minta tutup,” pungkasnya.

Topik berharap tidak ada lagi yang berjualan miras dan melebihi jam operasional

“Harapan kami, cafe tersebut tidak lagi berjualan miras dan jam operasionalnya tidak melewati jam yang sudah ditentukan apalagi saat pandemi covid-19,” harapnya.

Salah satu warga yang enggan disebutkan namanya, saat ditemui dilokasi mengaku senang dengan adanya razia seperti ini

“Alhamdulillah mas, akhirnya dirazia juga. Soalnya cafe itu kalau buka sampai menjelang subuh dan sering ada keributan disitu dan saya mengapresiasi petugas gabungan dari TNI, Polri dan Satpol PP Kota Depok,” tutur salah satu warga yang menyaksikan razia.

Pada saat petugas merazia ditemukan ratusan botol miras yang disembunyikan pengelola cafe didalam salah satu mobil yang terparkir dihalaman cafe tersebut.(Novo)

Jabodetabek

Relawan Depok Begaya sasar Kaum Milenial Menangkan Pradi Afifah

BERIMBANG.com, Depok – Tak dapat dipungkiri, kalau perhelatan Pilkada Depok tahun 2020 ini banyak pemilih pemula dari kaum milenial yang cukup besar jumlah pemilihnya. Hal tersebut diperkuat DPT dari KPU Kota Depok jumlah pemilih muda/pemula.

Tentunya peluang inilah yang disasar oleh kekuatan Relawan Divisi Pendidikan ‘Depok Begaya’ untuk dapat merebut simpatik pemilih pemula dari kaum milenial yang memang menginginkan suatu perubahan di Kota Depok.

H Acep Azhari selaku ketua umum “Saya telah membekali tim kerja untuk segera melakukan gerakan memenangkan dan menjadikan Pradi Supriatna sebagai Wali Kota yang membawa perubahan lebih maju lagi,” tutur Ketua Umum Depok Begaya, H. Acep Azhari, Sabtu (31/10/2020).

Hal senada juga dikatakan Budiyanto Ketua Tim Divisi Pendidikan ‘Depok Begaya’ yang siap mengawal janji paslon nomor urut 1, Pradi-Afifah yakni akan mensejahterakan guru dan tenaga pendidikan manakala memenangi Pilkada 9 Desember.

“Kami bukan hanya memenangi tapi kami akan mengawal janji Bang Pradi Supriatna untuk mensejahterakan guru dan tenaga pendidikan,” tegas Budiyanto.

Mewakili kaum milenial, Rusman menambahkan, Bang Pradi itu orangnya asik dan gaul banget. Meski jarang sekali bisa langsung bicara tatap muka, tapi Bang Pradi perhatian banget dengan kegiatan anak-anak muda di Depok.

“Dengan Depok Begaya, saya yakin dapat meraih suara terbanyak dari kaum milenial dan siap memperjuangkan kesejahteraan para guru dan tenaga pendidik,” pungkasnya. “”

Bogor

Tak Terima Ibu Kandung Dimaki, Rindiawan Didampingi Pengacara: Itu Harus di Hukum

BERIMBANG.com Bogor – Kepolisian Resort (Polres) Bogor menindaklanjuti aduan R. Rindiawan yang melaporkan inisial LY, telah bergulir ke penyelidikan.

Rindiawan didampingi pengacaranya Ruby Falahadi, menunjukan surat panggilan polisi di Polres Bogor Jumat, (30/10/2020), untuk dimintai keterangan atas laporannya,

Usainya, R. Rindiawan diwakilkan pengacara Ruby mengatakan pemanggilan itu, “berita acara interogasi, (BAI), kurang lebih 13 keterangan,” terang Ruby Falahadi di Polres Bogor.

“Laporan Undang-Undang ITE, pihak kepolisian telah menganalisa dan memberikan pasalnya (untuk pelaku),” kata Ruby.

“pandangan saya, hemat saya sudah cukup, pasal 184 (bagi pelaku yang dilaporkan,” katanya, menurut Ruby, “Unsur (pidana) sudah dipenuhi. Dua alat bukti sudah cukup, baik lisan atau tulisan,” terangnya.

“Dari pihak kami sebagai advice, demi hukum dan undang-undang. Siapapun yang bersalah, siapapun yang membuat tindakan pidana, itu harus dihukum,” pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, cerita Rindiawan sebelum didampingi pengacaranya, bermula Rindiawan diminta membantu inisial ME untuk mengurus sertifikat tanah LY, “Kepengurusan sertifikat hilang,” kata Rindi.

“Keterangan yang saya dapat ternyata tidak sesuai dengan keterangan yang sebenarnya, karena Sertifikat itu bukan hilang tapi sudah di lelang.. lantas kenapa memaki-maki ibu saya..,” kata Rindiawan Geram.

Lanjut dia menjelaskan, bukan hanya penghinaan kepada ibunya, selain memaki ibunya, LY juga telah mencemarkan nama baik Rindiawan, “bukan cuman ibu saya, tapi melalui Telepon Selulernya lebih parah lagi malah.. karena itulah saya ambil tindakan (melapor ke polisi),” ucap R. Rindiawan.

Menurut dia, LY menyerang ibu Rindiawan dengan lisan, LY melontarkan kata-kata yang tidak pantas hingga ibu Rindiawan pun menangis terisak-isak. kata dia, Kejadian itu di saksikan tetangga disekitar rumahnya dan ME.

R. Rindiawan menegaskan bahwa ibunya tidak ada kaitan apapun tentang pekerjaan yang sedang ia kerjakan, “Kenapa ibu saya jadi sasaran,” katanya.

(TYr)

Jabodetabek

Depok Begaya Kawal Janji Pradi Akan Perhatikan Sekolah Swasta

BERIMBANG.com, Depok – Pendidikan di Kota Depok masih menemui sejumlah kendala dan permasalahan. Mulai dari PPDB sampai dengan kesejahteraan bagi para guru swasta. Hal itu dibenarkan Ketua Divisi Pendidikan Depok Begaya, Budiyanto. Bagi guru swasta saat ini membutuhkan peningkatan kesra. Tidak hanya guru, termasuk tenaga kependidikan seperti karyawan.

“Kalau dulu hanya kisaran Rp 1 juta setahun sekali. Maka diharapkan ke depan bisa naik dua sampai tiga kali lipat. Ini sudah kita bicarakan dengan Calon Wali Kota Depok Pradi Supriatna,” ujar Budiyanto didampingi Ketua Umum Depok begaya H. Acep Azhari saat konsolidasi Tim Depok Begaya untuk pemenangan Pradi Supriatna-Afifah Alia nomor urut 1 di RM. Bakoel Samara, Jl. Raya Meruyung, Pancoran Mas, Depok, Kamis (29/10/2020).

Budiyanto yang juga Wakil Ketua DPC Gerindra Kota Depok mengataka, para guru swasta dan tenaga kependidikan perlu mendapatkan perhatian serius dari Pemerintah Kota Depok. Belum lagi, lanjutnya, perlunya bantuan sarana dan prasarana bagi sekolah swasta.

“Yang lebih penting lagi, adalah prinsip berkeadilan dalam penerapan PPDB. Penerapan zonasi dalam PPDB seakan menjadi permasalahan klasik,” bebernya.

Budi mengungkapkan, prinsip berkeadilan adalah bagaimana dalam penerimaan PPDB sesuai dengan kapasitas. Jangan sampai melebihi kapasitas, lanjutnya, berdasarkan ketentuan maksimal sembilan rombongan belajar dalam pelaksanaannya sampai 12 rombel.

“Ya kita berharap sesuai dengan ketentuan dalam rombelnya. Jangan sampai, sekolah swasta terdampak ada yang kekurangan murid,” tegasnya.

Sebelumnya, Calon Wali Kota Depok nomor urut 1 Pradi Supriatna bertemu dengan Ketua Umum Depok Begaya H. Acep Azhari dan para penggiat Pendidikan di Depok. Dalam kesempatan tersebut, Pradi berjanji akan memperhatikan sekolah swasta.

“Salah satunya akan meningkatkan Kesra Guru,” pungkasnya. **

Bogor

Tak Terima Ibu Kandung Dimaki, Anaknya Lapor Polisi

BERIMBANG.com Bogor – Mendengar cerita ibunda tercinta di caci maki hingga menguraikan air mata oleh orang tak dikenalnya. Anak dari ibu tersebut R. Rindiawan merasa ibunya dihina, dan dicemarkan nama baiknya, ia mengadukan hal itu ke polisi,

“Sudah saya adukan LY ke Polisi, sekarang sudah penyelidikan,” kata R.Rindiawan, sembari memperlihatkan surat pemanggilan dirinya untuk dimintai keterangan. Kamis 29 Oktober 2020.

R.Rindiawan menegaskan bahwa ibunya tidak ada kaitan apapun tentang pekerjaan yang sedang ia kerjakan, “Kenapa ibu saya jadi sasaran,” katanya.

Cerita Rindiawan, Bermula, LY mendatangi rumahnya, pada Jumat (18/09/2020) lalu, ketepatan ibu Rindi sedang berkunjung kerumahnya, tidak ada orang yang dimaksud LY, sebab Rindi tidak ada dirumah, LY pun melampiaskan kemarahannya kepada ibu Rindiawan.

Menurutnya, LY menyerang ibu Rindiawan dengan lisan, melontarkan kata-kata yang tidak pantas hingga ibu Rindiawan pun menangis terisak-isak. kata dia, Kejadian itu di saksikan tetangga disekitar rumahnya dan ME, ia mengaku bahwa ME lah yang mengenalkan LY ke Rindiawan.

“(awalnya) Saya tidak mengenal LY, yang saya kenal ME, karena kepercayaan beliau kepada saya untuk kepengurusan sertifikat hilang. dan itupun sudah saya proses sesuai aturan yang ada.” kata Rindi.

Usut punya usut, Rindiawan mengurai sebab musabab yang diketahuinya, yaitu urusan pekerjaan, pengurusan surat tanah yang dipercayakan LY ke Rindi ternyata bermasalah, menurut Rindiawan ada yang tidak beres sesuai aturan.

“Keterangan yang saya dapat ternyata tidak sesuai dengan keterangan yang sebenarnya, karena Sertifikat itu bukan hilang tapi sudah di lelang.. lantas kenapa memaki-maki ibu saya..,” kata Rindiawan Geram.

Lanjut dia menjelaskan, bukan hanya penghinaan ibunya, selain memaki ibunya LY juga telah mencemarkan nama baik Rindiawan, “bukan cuman ibu saya, tapi melalui Telepon Selulernya lebih parah lagi malah.. karena itulah saya ambil tindakan (melapor ke polisi),” ucap R. Rindiawan.

Dia akan memenuhi panggilan polisi untuk dimintai keterangan atas laporannya, “Besok (30/10) Jumat saya ke Polres Bogor,” pungkas R. Rindiawan.

(TYr)

Jabodetabek

Relawan Merah Optimis Idris Mampu Pimpin Depok

BERIMBANG.com, Depok – Masa depan Kota Depok menjadi tanggung jawab Wali Kota selanjutnya, yang akan ditentukan saat Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak, 9 Desember mendatang.

Kaum Nasionalis Soekarnois Kota Depok yang tergabung dalam Relawan Merah optimistis Idris mampu memimpin Kota Depok di periode 2020-2024. Guna meyakinkan hal tersebut, pihaknya mendeklarasikan diri untuk mendukung Pasangan Calon (Paslon) Wali Kota dan Wakil Wali Kota Depok, Nomor Urut 2, Mohammad Idris-Imam Budi Hartono pada perhelatan Pilkada Depok 2020.

Ketua Relawan Merah Depok, Julius Inggi Vistindo mendeklarasikan diri untuk mendukung Paslon IDRIS-IMAM setelah dengan seksama serta mengkaji berdasarkan data dan fakta pihaknya dari para Relawan Merah.

“Berdasarkan kajian kami mempertimbangkan dan memutuskan untuk memberikan dukungan kepada Paslon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Depok, Mohammad Idris-Imam Budi Hartono,” kata Julius usai deklarasi di meet up resto & caffe, Rabu (28/10/2020).

Menurutnya, dukungan yang dilaksanakan tepat pada hari Sumpah Pemuda tersebut diberikan tidak hanya memandang kepentingan politik semata, namun lebih jauh lagi bagi kepentingan masyarakat dan Kota Depok. Jadi tidak hanya hari ini, esok, dan tahun ini.

Namun, menurutnya, dukungan tersebut adalah sebuah kepentingan yang berpijak dan mampu menjadi fundamen bagi Kota Depok dihari mendatang.

Selain itu, Relawan Merah memberikan dukungan tidak semata memberi dukungan politik bagi partai politik, tapi lebih kepada rasionalitas dan pola berpikir.

Dia menilai paslon IDRIS-IMAM lebih mumpuni disegala aspek, mulai kepribadian, managerial dan tehnical skill untuk mengelola Pemerintahan Kota (Pemkot) Depok. Maka akan mampu meminimalisir risiko fatal dalam membuat dan memutuskan sebuah kebijakan.

Terkait adanya anggapan, “kekurangan” yang tercatat yang dinilai belum maksimalnya dibeberapa kebijakan pada periode sebelumnya telah menjadi salah satu program unggulan (skala prioritas) yang akan dijalankan periode selanjutnya.

“Jika memenangkan kembali, pada Pilkada tahun ini menjadi Kota yang maju, berkepribadian dan berkebudayaan, sejahtera, Religi namun tetap Pluralis. Jadi tidak ada alasan untuk tidak memenangkannya,” tandasnya.**

Jabodetabek

NU Depok Ajak Relawan Depok Begaya Untuk Bebenah Dan Bangkit

BERIMBANG.com, Depok – Ketua PCNU Depok Ustad Achmad Solechan sangat mengapresiasi penyelenggaraan Lailatul Ijtima’ MWC NU Limo yang berlangsung di Ponpes yang di asuh oleh Kiayi Syamsudin yakni Ponpes Subulul Haromain Ranting NU Kelurahan Grogol, Depok yang telah dimulai lagi pada Selasa (27/10/2020) malam.

Lailatul ijtima’ adalah forum kumpulnya para pengurus NU dengan warga NU. Menurutnya, para pengurus menyampaikan paparan program yang telah dan akan dilaksanakan. Sedang warga NU menyampaikan catatan, usulan program dan yang patut diperhatikan. Terlebih lagi, akan dilaksanakan terkait pemahaman dan penguatan akidah ahlussunnah wal jamaah (Aswaja).

“Menjadi tugas para pengurus untuk terus bergerak dan bergerak menjaga dan membentengi ummat dari serbuan ideologi yang sesungguhnya berlawanan dengan Aswaja,” kata Ustad Achmad Solechan.

NU sebagai rumah besar Ahlussunnah Waljamaah selayaknya menjadi tuan rumah di Depok. Saatnya Depok menunjukkan jati dirinya yang asli. “Bahwa Depok adalah bumi Aswaja yang sesungguhnya, yang ditunjukkan dengan kepemimpinan yang merepresentasikan Akidah Aswaja,” tegasnya.

Kepada jamaah, Ketua PCNU berpesan jangan sampai tertipu dengan pihak yang mengaku dan menampilkan Aswaja hanya periodik lima tahunan atau hanya pencitraan. Khusus kepada Relawan Depok Begaya, saatnya menyadari potensi Depok yang sesungguhnya, yang sekian periode tidak pernah tergarap. bahkan boleh jadi memang sengaja untuk tidak menggarap potensi yang ada ini.

“Relawan Depok Begaya yang di pimpin oleh H. Acep Azhari mesti cerdas dan melakukan aksi penyadaran kepada semua komponen bahwa Depok harus mulai berbenah dan bangkit,” pungkasnya. *”

Jabodetabek

PJR Pasang Papan Nama, Zamrowi : Pengelolaan Pasar Kemirimuka Tetap Berjalan

BERIMBANG.com, Depok – Pemasangan papan nama yang dilakukan PT. Petamburan Jaya Raya yang bertuliskan ” Tanah Pasar Kemirimuka Milik Petamburan Jaya ” disikapi oleh Kepala Dinas Perdagangan Dan Industri Kota Depok ( Disperdagin).

Kadis Perdagin, Zamrowi menilai, Pemasangan papan nama yang dilakukan oleh PT. Petamburan Jaya Raya tidak menyurutkan berhentinya pengelolaan Pasar Kemirimuka terhenti oleh UPT Pasar Kemirimuka.

” Kami tetap melayani para pedagang yang ada di Pasar Kemirimuka, walaupun ada pemasangan papan nama yang dilakukan oleh PT. Petamburan Jaya Raya, kami tetap melayanai kebersihan dan retribusi, ” ujar Zamrowi disela acara launching Penjualan online di Pasar Sukatani belum lama ini.

Terkait permasalah aset lahan Pasar Kemirimuka, Pemerintah Kota Depok tetap melanjutkan proses hukum ke tahap Kasasi di Mahkamah Agung RI.

” Kami tetap berusaha untuk memperjuangkan aset agar lahan Pasar Kemirimuka dimiliki Pemerintah Kota Depok, masalah papan nama yang dipasang , kami juga bisa melakukan hal yang sama, untuk lebih jelasnya tanya ke bagian Aset, ” imbuhnya.

Ketika dikonfirmasi, Kepala Badan Keuangan Daerah, Nina Suzana menyampaikan dengan singkat melalui sambungan telepon seluler bahwa proses hukum aset lahan Pasar Kemiri masih tetap berlanjut proses hukumnya.

Iik

Jabodetabek

Cafe Sebrang Hotel Uli Arhta Jual Miras Dan Buka Sampai Subuh

BERIMBANG.com, Depok – Kembali tingginya kasus penyebaran virus covid-19 di Kota Depok nampaknya tidak diindahkan oleh para pemilik tempat usaha di Kota Depok.

Bahkan, pemilik tempat hiburan malam yang menyediakan minuman keras (Miras) pun terlihat nekat membuka tempat usahanya dengan terang-terangan hingga menjelang subuh.

Padahal, berdasarkan data update terakhir kasus Covid-19, Kota Depok sempat masuk dalam zona oranya.

Namun kondisi itu tak berlangsung lama. Saat ini Kota Depok kembali dinyatakan masuk ke dalam zona merah dan menjadi satu-satunya Kota di Jawa Barat yang tingkat penyebaran kasus covid-19 nya paling tinggi se-Jawa Barat.

Berdasarkan pantauan wartawan, salah satu tempat hiburan malam yang masih terlihat bebas beroperasi berada di kawasan jalan raya Bogor.

Salah satunya adalah Cafe Kris yang berlokasi di seberang Hotel Uli Artha, Jalan Raya Bogor, Kecamatan Tapos.

Kafe yang meyediakan minuman keras dan beberapa pekerja wanita berpakaian seksi ini terlihat bebas buka sampai menjelang subuh tanpa adanya tindakan tegas dari aparat penegak hukum.

Bahkan ketika dikonfirmasipun DR selaku pengelola sekaligus pemilik Cafe Kris terkesan arogan dan mengaku tidak takut dengan Satpol PP Kota Depok.

“Laporkan saja. Emang saya takut”, ketus pengelola Cafe kepada sejumlah wartawan, Rabu (28/10/2020) dini hari.

Menanggapi hal ini, Kepala Satpol PP Kota Depok, Lienda Ratnanurdianny yang dihubungi melalui telepon selulernya menegaskan bahwa Cafe yang dimaksud (Cafe Kris) pernah ditindak oleh Satpol PP karena terbukti melalukan pelanggaran (menjual miras dan buka melebihi jam operasional yang ditetapkan, red).

Dikarenakan masih membandel, maka Lienda memastikan bahwa pihaknya akan segera melakukan pengawasan kembali terhadap tempat tersebut.

“Jika masih tetap nekat, kami tidak akan segan-segan memberikan sanksi tegas kepada pemilik/pengelola tempat usaha tersebut”, tegas Lienda, Rabu (28/10/2020).

Terpisah, Komandan Distrik Militer (Dandim) 0508 Depok, Kolonel Inf Agus Isrok Mikroj yang mendapati informasi tersebut, terlihat geram.

Menurut Dandim tempat hiburan yang nekat membuka usahanya melebihi batas waktu yang ditetapkan apalagi sengaja melanggar protokol kesehatan akan segera ditindak.

“Saya akan follow up dan kerahkan tim untuk memonitor tempat tersebut. Saya juga mendapati informasi bahwa di tempat itu sering berkumpul oknum-oknum anggota (TNI-Polri). Saya akan berikan sanksi tegas kepada siapapun anggota saya yang berani memberikan perlindungan terhadap tempat-tempat maksiat di Kota Depok”, tegas Dandim yang juga sebagai tim Satgas pencegahan penyebaran Covid-19 Kota Depok ini.

Berdasarkan informasi yang di dapat dari masyarakat, ada lebih dari satu tempat usaha hiburan malam yang beroperasi di Ruko yang berada di seberang Hotel Uli Artha.

Selain Cafe, ada juga karaoke dan panti pijat yang membuka usahanya di ruko-ruko tersebut.

Pemilik tempat usaha itu juga terbilang nekat karena berani membuka usahanya sampai menjelang subuh dalam setiap harinya.

Padahal pemerintah sudah mengeluarkan pembatasan jam malam di Kota Depok, dimana aktivitas warga maksimum dibatasi sampai pukul 21.00 WIB, sedangkan aktivitas untuk tempat usaha sampai pukul 20.00 WIB.

“Tempat-tempat hiburan malam seperti itu bisa menjadi cluster baru penyebaran Covid-19. Apalagi mereka kerap terlihat berkumpul berdekatan tanpa mengenakan alat pelindung diri seperti masker. Satgas penanganan Covid-19 di Kota Depok harus segera memberikan tindakan tegas supaya dapat mencegah penyebaran kasus Covid-19 yang lebih luas di Kota Depok. Kalau perlu, tutup sajalah tempat-tempat maksiat seperti itu. Bikin resah warga saja”, pungkas Wanto, salah seorang warga Tapos yang mengaku geram dengan adanya kafe penjual miras tersebut.(Novo)