Bogor

BogorJabodetabek

Laskar Pembela Islam Caringin : Perang Untuk Narkoba dan Miras

 IMG-20160127-WA0001

BERIMBANG.COM, Bogor – Penjualan bebas obat terlarang di toko Obat dan Kosmetik Sasaka 2 yang berlokasi di pertokoan kawasan Cisempur, Desa Cinagara, Kecamatan Caringin, memancing reaksi sejumlah pihak. Laskar Pembela Islam (Lpi) Wilayah Caringin dalam waktu dekat akan melakukan tindakan tegas.  Hal itu dikatakan oleh ketua Lpi (Qo’id) Wilayah Caringin, Deden, saat ditemui berimbang.com dikediamanya, Selasa (26/01/16) kemarin.

“Kami akan pantau dan mencari buktinya.  Kalau sudah terbukti,  kami akan berkoordinasi dengan muspika dan akan mengambil langkah tegas! “, kata Deden, Qo’id Lpi Wilayah Caringin, kemarin.

Lebih lanjut, Deden mengatakan, apa yang dilakukan oleh pengusaha Toko Obat Sasaka 2 sudah tidak dapat ditolerir.  Karena menurutnya,  secara langsung sudah merusak generasi bangsa. Dalam hal ini  masih kata Deden, aparat penegak hukum harus segera mengambil tindakan.

“Kondisi ini harus segera disikapi oleh aparat penegak hukum, karena mental generasi penerus bangsa sudah dirusak mentalnya.  Apalagi pelanggaran hukum yang dilakukan penjual sudah sangat jelas.  Jangan sampai publik beropini adanya pembiaran”, tandas Deden.

Seperti diberitakan sebelumnya, Toko Obat Sasaka 2 menjual bebas obat terlarang jenis alfazolam, trihexyphenidyl, hexymer dan megadon pada anak dibawah umur. Ironisnya, saat dikonfirmasi, penjaga toko yang diketahui bernama Nasir mengatakan bahwa usahanya itu sudah dikoordinasikan dengan Polsek, Polres hingga Polda Jabar. (Raden/Nana/Yosef)

BogorJabodetabek

Diduga Dibekingi Oknum Aparat, Toko Obat Sasaka 2 Jual Bebas Obat Terlarang

IMG-20160126-WA0000

BERIMBANG.COM, Bogor – Peredaran obat – obatan terlarang di kalangan anak dibawah umur di wilayah selatan Kabupaten Bogor kian mengkhawatirkan.  Betapa tidak, obat – obatan jenis penenang itu bisa diperoleh dengan mudah dan dijual bebas di sejumlah toko obat.

Berdasarkan hasil investigasi tim berimbang.com di wilayah Caringin, sebuah toko obat bernama Sasaka 2 yang berlokasi di pertokoan kawasan Cisempur, Desa Cinagara, Kecamatan Caringin,  menjual bebas obat – obatan yang masuk kategori psycotropica golongan empat, diantaranya alprazolam, trihexypenidil, hexymer dan megadon, kepada anak dibawah umur.

Berdasarkan pantauan berimbang.com di lokasi, dalam satu hari puluhan anak dibawah umur terlihat silih berganti mendatangi  toko obat tersebut. Awalnya, tim investigasi berimbang.com kesulitan saat mencoba mewawancarai bocah bocah belia yang diantaranya wanita itu, karena mereka ketakutan dan langsung melarikan diri dengan memacu sepeda motornya.

Namun setelah beberapa lama akhirnya tim berhasil mewawancarai diantaranya. Saat ditanya, bocah bocah belia itu mengaku sudah biasa membeli obat di toko Sasaka 2.

“Hampir setiap hari saya beli obat hexymer di toko obat ini, karena sudah langganan. Satu paket hexymer isinya 15butir, harganya 20 ribu”, ungkap bocah laki – laki,  yang mengaku masih bersekolah di kawasan Caringin itu, sambil menunjukan obat yang baru saja dibelinya di toko obat Sasaka 2, kepada berimbang.com, kemarin.

Ironisnya, saat awak media mengkonfirmasi ke toko obat Sasaka 2, penjaga toko yang diketahui bernama Nasir, menyangkal telah menjual bebas obat tersebut kepada anak dibawah umur.

Namun setelah wartawan menunjukan bukti, Nurdin pun mengakuinya. “Ya, memang kami menjual obat alprazolam, hexymer, trihexypenidil dan megadon. Tapi kami sudah berkoordinasi dengan Polsek Caringin melalui kanit reskrim, Polres Bogor bahkan Polda Jabar”, kata Nasir kepada sejumlah awak media, Senin (24/01/16) malam kemarin.

Nasir juga mengatakan, bahwa dirinya sudah diarahkan Kanit Reskrim Polsek Caringin untuk tidak menanggapi wartawan yang meminta keterangan kepadanya. “Barusan saya telpon Kanit, dan kata Kanit wartawan yang datang tidak usah ditanggapi”, ujarnya.

Sementara itu, Kanit Reskrim Polsek Caringin, Iptu Suseno, saat dikonfirmasi terkait hal tersebut mengatakan bahwa pihaknya sudah melakukan penggerebegan ke toko obat Sasaka 2. “O itu pernah kita gerebeg dan diarahkan untuk urus legalitasnya. Cuma kita belum cek lagi perkembangannya”, kata Kanit Reskrim Polsek Caringin dalam pesan singkatnya.

Ketika ditanya terkait pernyataan penjaga toko soal koordinasi,  Suseno menepisnya. “Kanit yang mana?”, jawab Suseno dengan singkatnya.

Hingga Senin (25/01/16) siang kemarin,  masih terpantau anak – anak dibawah umur yang hilir mudik ke toko obat dan kosmetik Sasaka 2.

Sebagai tambahan informasi, dilansir dalam pemberitaan sejumlah media, Jum’at (22/01/16) lalu, jajaran Satnarkoba Polres Bogor Kota berhasil membongkar peredaran pil alprazolam di wilayah Kota Bogor. Pil itu dijual bebas dari toko obat Intan di kawasan Cilebut, dimana sebelumnya Satnarkoba juga berhasil menangkap seorang pengedar di kios pasar. Hasilnya, ratusan butir pil alprazolam diamankan oleh Satnarkoba Polres Bogor Kota. (Raden Supriyadi/Nana)

BogorJabodetabek

Kinerja Camat Caringin Dikritisi Organisasi Kepemudaan

IMG-20160125-WA0000

BERIMBANG.COM, Bogor – Kinerja Camat Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, Rumambi,  mendapat kritikan pedas dari kalangan Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) di wilayahnya. Kritikan tersebut menyusul tidak ditanggapinya layangan surat dari OKP yang meminta audensi dengan camat Caringin beberapa waktu lalu.

“Jujur saja kami kalangan pemuda Kecamatan Caringin merasa sangat kecewa dengan sikap camat yang tidak kooperatif. Padahal apa susahnya memenuhi permintaan kami selaku warga yang ingin mempertanyakan kinerjanya,” ujar Ipan Sopandi, Penasehat OKP wilayah Kecamatan Caringin, kepada sejumlah awak media, Jumat (22/01/2016).

Menurutnya, selama menjabat, Camat Rumambi dianggap tidak proaktif terhadap masyarakat, kalangan pemuda, Organisasi Sosial (Orsos) hingga Kepanduan (Pramuka) dan berbagai kalangan lainnya.

Salah satu yang dikritisi pihaknya yakni tentang kejelasan pembangunan Gedung Olahraga (GOR) atau gedung serbagunan Caringin.

“Ya itu salah satu hal yang ingin kita pertanyakan. Kami ingin tahu seperti apa kejelasan tentang Gor,” tegasnya.

Mantan Kepala Desa Pancawati ini pun menilai, penempatan Rumambi menjadi Camat Caringin merupakan kesalahan  Sekretaris Daerah (Sekda) serta Badan Pertimbangan Jabatan dan Kepangkatan (Baperjakat) Kabupaten Bogor.

“Sebelum mendelegasikan, harusnya pertimbangkan dulu apa pantas orang tersebut memimpin wilayah, jangan asal menempatkan saja. Yang ada Caringin kini bukan makin berkembang, tapi sebaliknya malah stagnan setelah dipimpin camat itu,” cetusnya.

Seharusnya, lanjut Ipan, camat bisa membangun sinergitas dengan melibatkan peranan pemuda dalam berbagai program sebagai bentuk dukungan terhadap misi Kabupaten Bogor yang ingin menjadi kabupaten termaju di Indonesia. Tak hanya itu pihaknya juga mendesak para anggota legislatif daerah pemilihan (dapil) 3 turut mengevaluasi pendelegasian Rumambi sebagai Camat Caringin.

“Ya makanya jangan salahkan warga ataupun kami kalangan pemuda, jika berbagai program kecamatan tidak berjalan, karena camat tidak mau membangun sinergitas dengan masyarakat,” pungkasnya.

Dia menambahkan, karena tidak bisa menjalin sinergitas dengan berbagai kalangan, maka hal itu akan menjadi hambatan terhadap misi Kabupaten Bogor yang ingin menjadi kabupaten termaju.

“Kalau camatnya aja seperti itu, bisa-bisa yang ada harapan kabupaten termaju hanya jadi jargon belaka dan malah sebaliknya menjadi kabupaten termundur,” tutupnya.

Hingga berita ini diturunkan,  Camat Rumambi belum bisa dimintai tanggapan terkait hal tersebut. (Raden Supriyadi)

BogorJabodetabek

Buruh VS Manajemen PT Deltapack Belum Sepakat

IMG-20160121-WA0000

BERIMBANG.COM, Bogor – Proses mediasi antara buruh dengan manajemen PT Deltapack, perusahaan yang memproduksi botol air minum merk Club di Desa Warung Menteng, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, masih belum menemui kesepakatan. Mediasi ini dilangsungkan pada Senin 18 Januari 2016 pukul 11.00 WIB di ruang rapat PT. Deltapack.

Manajemen PT Deltapack diwakili Hendarin Nurendra (manager), Ivan (HRD), Sabariman dan Bedjo (Disnakertrans Kabupaten Bogor), Kapolsek Cijeruk Kompol Suhartono dan jajaran, Ade (Ketua PUK PT. Deltapack), dan dua orang buruh perwakilan DPC FSPMI Kabupaten Bogor.

Dalam mediasi itu terungkap akan ada unjukrasa buruh pada Selasa 19 Januari 2016 lalu, terkait kebijakan yang diambil managemen.

Kapolsek Cijeruk Kompol Suhartono menjelaskan, dalam mediasi itu pihak manajemen menganggap bahwa perjanjian bersama pada 21 Oktober 2014 tidak sah karena adanya intimidasi dari pihak buruh yang menghentikan produksi selama satu jam. Apabila karyawan melaksanakan mogok kerja tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku maka menajemen akan memberikan sanksi.

“Sedangkan pihak buruh menuntut agar perusahaan menjalankan perjanjian bersama yang telah disepakati terhadap 11 orang karyawan. Buruh juga menuding adanya intimidasi dari pihak manajemen kepada karyawan yang akan melakukan demo akan di PHK,” jelasnya.

Sementara pihak Disnakertrans, menyarankan untuk melakukan perundingan terlebih dahulu dan tidak melakukan mogok kerja, selain itu agar permasalahan perjanjian bersama ini dilanjutkan ke PHI.Ketua PUK FSPMI, Ade, berharap 11 karyawan yang di-PHK agar bisa dipekerjakan kembali dan buruh siap ditempatkan di mana saja.

“Buruh tidak akan melaksanakan aksi unjuk rasa sampai dengan hari Kamis pukul 15.00 wib sore ini serta akan ada perundingan kembali,” ujarnya. (Raden Supriyadi)

BogorJabodetabek

Diguyur Hujan, 2 Rumah Desa Ciadeg Dihantam Longsor

IMG-20160120-WA0002

BERIMBANG.COM, Bogor – Masyarakat hendaknya lebih waspada saat menghadapi musim penghujan saat ini.  Karena tanpa bisa diprediksi,  setiap saat bencana alam selalu mengancam. Seperti yang dialami warga Kampung Dukuh Desa Ciadeg, Kecamatan Cigombong,  yang tertimpa bencana longsor, akibat hujan deras yang mengguyur, Senin (19/01/16) lalu.

Rumah milik Ikah (62) dan Empud (56) yang berlokasi di Kampung Dukuh rt 02/14 Desa Ciadeg itu porak poranda dihantam longsoran tanah hingga salah satunya nyaris roboh. Meski tidak ada korban jiwa,  namun kerugian yang ditimbulkannya mencapai puluhan juta rupiah.

“Saat kejadian saya sedang berada di dalam rumah.  Tapi alhamdulillah keluarga saya selamat,  hanya motor anak saya rusak tertimpa bangunan yang roboh”, tutur Ikah, salah satu korban saat ditemui Berimbang.com dikediamannya.

Paska bencana, warga secara bahu membahu bersama aparat membantu memperbaiki rumah korban,  dan mengevakuasi puing –  bangunan yang tertimpa longsor. Sementara, pemerintah setempat memberikan bantuan tanggap darurat bencana.

“Kami sudah melaporkan kejadian bencana ini kepada pemerintah daerah melalui desa dan kecamatan.  Kami berharap pemerintah daera segera turun tangan dan memberikan bantuan kepada para korban”, kata Buyung, ketua Rw setempat kepada Berimbang.com, kemarin.

Reporter : Nana Suryana

Editor      : Raden Supriyadi

BogorJabodetabek

Antisipasi Teror, Muspika Cijeruk Sisir Rumah Kontrakan

IMG-20160119-WA0001

BERIMBANG.COM, Bogor – Menyusul giat operasi Cipta Kondisi (Cipkon) pemeriksaan kendaraan roda empat dan penumpangnya di jalur alternatif Cigombong – Cijeruk – Batu Tulis kemarin, guna mengantisipasi pergerakan para pelaku teror,  jajaran Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) Cijeruk, Kabupaten Bogor, menyisir rumah – rumah kontrakan di Desa Sukaharja dan Desa Palasari, Selasa (19/01/16).

Dalam giat ini, para warga pendatang yang tinggal di rumah rumah kontrakan diperiksa kelengkapan identitasnya oleh aparat gabungan.

Kapolsek Cijeruk – Cigombong Kompol Suhartono, mengatakan giat ini melibatkan personil gabungan dari tiga unsur yang dibagi menjadi dua tim.

“Giat ini melibatkan unsur Polri dari Polsek setempat, TNI dari Koramil Cijeruk – Cigombong, dan unsur pemerintahan dari kecamatan juga desa”, kata Kompol Suhartono kepada berimbang.com disela kegiatan siang tadi.

Lebih lanjut Kaposek Suhartono menjelaskan, tim 1 yang dipimpinnya berjumlah 18 personil, terdiri dari 8 anggota Polsek, 3 anggota Koramil,  4 anggota Unit Pol PP Cijeruk dan 3 orang aparat pemerintah desa.  Tim 1 menyisir rumah kontrakan di Kampung Pondok Bitung Rw 03 dan Rw 02 Desa Sukaharja Kecamatan Cijeruk.

Sementara itu, lanjut Kapolsek, Tim 2 dibawah pimpinan Kepala Unit Reserse dan Kriminal (Kanit Reskrim) Polsek Cijeruk – Cigombong, Ma’ruf Murdianto, berjumlah 10 personil. Yakni, 5 anggota Polsek, 1 anggota Koramil dan 4 orang staf desa. Tim ini melakukan pemeriksaan warga pendatang yang tinggal di rumah kontrakan di Kampung Geblug Rt 02/01 dan Kampung Cijeruk Rt 03/03 Desa Palasari.

“Pemeriksaan berjalan lancar dan tidak ditemukan warga pendatang yang mencurigakan. Namun demikian,  kami beserta jajaran akan terus melaksanakan operasi Cipkon ini secara berkala”,  Pungkas Kapolsek Cijeruk – Cigombong Kompol Suhartono. (Yosef Bonang)

BogorJabodetabek

Polsek Cijeruk-Cigombong Gelar Operasi Cipta Kondisi

IMG-20160118-WA0007

BERIMBANG.COM,  Bogor – Sepekan terakhir, jajaran Kepolisian Sektor (Polsek) Cijeruk – Cigombong menggelar Operasi Cipta Kondisi (Cipkon) di sejumlah titik di wilayah tugasnya.  Menurut Kepala Polisi Sektor (Kapolsek) Cijeruk –  Cigombong, Komisaris Polisi (Kompol) Suhartono, giat yang dilaksanakannya itu sebagai langkah antisipasi pergerakan para pelaku teroris.

Kompol Suhartono mengatakan, operasi dikonsentrasikan pada pemeriksaan kendaraan roda empat dan penumpangnya yang diduga pelaku teror. “Setiap kendaraan kami periksa.  Mulai dari kelengkapan kendaraan, identitas penumpang, serta barang bawaan dalam kendaraannya”, kata Kapolsek Cijeruk – Cigombong usai memimpin Operasi Cipkon di jalur alternatif Cigombong – Batu Tulis, tepatnya di depan kantor Pemerintah Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, Sabtu (16/01/16).

Dalam giat yang dimulai pada pukul 9.30 hingga pukul 11.00 waktu setempat ini,  jajaran Kepolisian menerjunkan lima belas personilnya, dibantu tiga personil TNI dan lima personil Pol PP Kecamatan Cijeruk. Hingga Operasi usai,  tidak ditemukan barang atau orang yang diduga pelaku teror. Usai giat tersebut,  aparat gabungan melanjutkan operasi penyisiran rumah kontrakan di wilayah desa Palasari dan Sukaharja.

Reporter : Nana Suryana

Editor      : Raden Supriyadi

BogorJabodetabek

Aset Budaya “Ngabungbang” Cimande Minim Perhatian Pemda

IMG-20151223-WA0000

BERIMBANG.COM, Bogor – Sudah menjadi tradisi, jika ritual “Ngabungbang” yang dilaksanakan setiap 14 Maulid, di kawasan Cimande, Kecamatan Caringin,  kerap dipadati masyarakat. Sepanjang jalan dari perempatan Kampung Cikodok hingga menuju kawasan Kampung Tarikolot, selalu dipadati oleh para pedagang kaki lima, yang menjual berbagai macam barang dagangannya.

Untuk menjaga pelaksanaan “Ngabungbang” berjalan lancar, Organisasi Pemuda Cimande Tarikolot (OPCT) pimpinan Ahmadi melakukan tugas pengamanan yang melibatkan semua pemuda dari sejumlah desa yakni Desa Cimande Jaya dan Desa Lemahduhur.

 “Kami mengerahkan hingga 250 pemuda yang bertugas melakukan pengamanan, mulai dari parkir hingga antisipasi tindak kejahatan,” kata Ahmadi.

Ahmadi menambahkan, tradisi ritual “Ngabungbang” bagi masyarakat Cimande sangat penting. Karena selain didatangi pengunjung dari berbagai daerah di Indonesia juga didatangi tamu mancanegara.

Sementara itu, mantan Kades Lemah Duhur, yang baru saja mengakhiri masa jabatannya Selasa (22/12/15) kemarin, Ujang Najmudin menuturkan, setiap peringatan “Ngabungbang” pihaknya menyiagakan ratusan petugas, terutama dalam mengatur arus lalulintas di jalan yang padat baik oleh pedagang maupun pengunjung.

Selain itu, lanjut Ujang, pihak selalu berkoordinasi dengan unsur Muspika Kecamatan Caringin dan aparat kepolisian setiap pelaksanaan “Ngabungbang”.

“Ngabungbang tahun ini lebih ramai, bahkan banyak tamu yang datang dari luar negeri, seperti Jepang, Malaysia, Singapura dan Amerika. Umumnya para tamu asing itu, datang ke Cimande karena sudah mengetahui kelestarian budaya tradisi ritual Ngabungbang milik Cimande,” ujarnya.

Ujang menambahkan, kebanyakan peziarah yang datang sudah melakukan tradisi tersebut selama bertahun-tahun.

“Menurut mereka tradisi ini sebagai kegiatan positif, berziarah ke makam keramat para Kesepuhan Cimande yang diyakini membawa kemaslahatan dan kebarokahan bagi yang meyakininya,” kata Ujang.

Namun yang sangat disayangkan, masih menurut Ujang, tradisi “Ngabungbang” yang merupakan salah satu aset budaya ini kurang mendapatkan perhatian serius dari pemerintah daerah, meskipun pemerintah desa selama dalam kepemimpinannya sudah berulang kali mengajukan permohonan bantuan melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar).(Nana)

BogorJabodetabek

Jelang Puncak Ritual Ngabungbang Cimande, PKL Padati Lokasi

IMG-20151222-WA0001

BERIMBANG.COM, Bogor – Jelang puncak acara ritual budaya “Ngabungbang” di kawasan Cimande, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, yang akan dilaksanakan pada hari Jum’at (25/12/15) mendatang, ratusan Pedagang Kaki Lima (Pkl) memadati bahu jalan di wilayah Desa Lemah Duhur dan Desa Cimande Jaya. Ritual budaya “Ngabungbang” menjadi agenda rutin tahunan yang telah dilaksanakan warga Cimande selama ratusan tahun, setiap bulan Maulid tepat di tanggal 14.

Para Pkl yang hadir dikawasan Cimande itu berasal dari berbagai daerah, dengan maksud mengadu peruntungan dagangnya dengan memanfaatkan keramaian saat rangkaian prosesi “Ngabungbang” berlangsung. Pasalnya, selain dilaksanakan oleh warga setempat, “Ngabungbang” juga diikuti oleh ribuan jamaah ziarah dari berbagai daerah, dalam dan luar jawa, bahkan jamaah ziarah dari luar negeri. Sejumlah pedagang mengaku mendapat keuntungan yang lumayan saat berjualan di area “Ngabungbang” pada tahun – tahun sebelumnya. Dan berharap mendapat keuntungan yang sama di tahun ini.

“Mudah – mudahan ditahun ini rejeki keuntungan dagang saya sama seperti tahun tahun sebelumnya”, ujar anton, pedagang pakaian muslim dan kelengkapan ibadah, saat ditemui berimbang.com di lokasi.

Ditempat terpisah, Gun, pedagang peci dan pernak pernik mengaku agak pesimis jika usaha dagangnya di tahun ini akan lebih baik dari tahun sebelumnya. “Saya agak khawatir dagangan saya kurang laku, karena saat ini kan lagi susah duit. Tapi mudah – mudahan sih enggak kayak gitu”, imbuhnya.

Berdasarkan pantauan berimbang.com di lokasi, kepadatan pedagang di sepanjang jalur tempat tempat ziarah Cimande, lebih meningkat dari tahun sebelumnya. Diprediksi, mulai besok kendaraan roda empat yang akan melintas dari arah talang Cimande ke arah Tarikolot akan sulit melintas, terlebih dipadatnya para peziarah yang semakin banyak berdatangan. (Raden/Nana)

BogorJabodetabek

Tiga Minggu Hilang, Wanita Setengah Baya Tewas Di Gunung Salak

IMG-20151222-WA0002

BERIMBANG.COM, Bogor – Warga Kampung Tapos Rt 2/3, Desa Sukaharja, Kecamatan Cijeruk, digegerkan dengan penemuan sesosok mayat wanita di tengah perkebunan blok Pambutan di kaki gunung salak, Selasa (22/12/15) petang tadi. Mayat wanita separuh baya dengan kondisi sudah membusuk ini pertama kali ditemukan oleh warga yang sedang mencari rumput. Kondisi mayat yang sudah membusuk, sehingga menyulitkan warga untuk dapat mengenalinya.

Setelah menerima laporan dari warga tentang penemuan mayat tersebut, aparat kepolisian sektor Cijeruk – Cigombong dibantu aparatur pemerintahan kecamatan, desa serta warga setempat, segera meluncur ke lokasi untuk melakukan identifikasi.

Saat dikonfirmasi berimbang.com diruang kerjanya, Kepala Unit Reserse dan Kriminal (Kanit Rekrim) Polsek Cijeruk – Cigombong, Iptu Ma’ruf Murdianto menjelaskan, bahwa mayat wanita itu ditemukan pertama kali oleh Hidayat, warga kampung Tajur Halang Rt 2/3 Desa Tajur Halang, pada Senin (21/12/15) sekitar pukul 17.00 waktu setempat dan baru dilaporkan Selasa (22/12/15) pagi tadi.

“Setelah menerima laporan dari warga, kami segera meluncur ke lokasi untuk melakukan identifikasi jenazah yang ditemukan. Beberapa saat ketika kami dilokasi ada warga yang mengenali sosok itu sebagai orang tuanya yang telah meninggalkan rumah selama tiga minggu”, kata Kanit Reskrim Polsek Cijeruk – Cigombong, kepada berimbang.com sore tadi.

Lebih lanjut Ma’ruf menjelaskan, anak korban bernama Samsudin (22) warga  Kampung Sawah Rt 2/5, Kelurahan Mulyaharja, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor. Samsudin mengenali sosok mayat itu adalah ibunya yang bernama Sapni (48) dari ciri – ciri pakaian yang dikenakan. Menurut keterangan Samsudin, ibunya mengalami gangguan kejiwaan dan telah meninggalkan rumah sejak tiga minggu lalu.

“Atas permintaan anaknya, kami tidak melakukan otopsi rumah sakit dan  jasad korbanpun langsung dibawa pulang kerumah duka untuk dimakamkan”, pungkas Ma’ruf. (Raden/Nana)