Published On: Tue, Jul 4th, 2017

Ancam Jaksa, Bos MNC Group Bakal Diperiksa Hari Ini SebagaiTersangka

Share This
Tags

BERIMBANG.COM, Jakarta – Penyidik Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri akan memeriksa bos MNC Grup Hary Tanoesoedibjo besok. Hary diperiksa sebagai tersangka kasus dugaan ancaman terhadap jaksa Yulianto melalui pesan singkat elektronik.
 
"Rencananya tanggal 4 Juli," kata Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Setyo Wasisto di Mabes Polri, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin 3 Juli 2017.
 
Setyo mengatakan, jika Hary Tanoe tak memenuhi pemeriksaan perdananya, pihaknya tetap menjalankan sejumlah prosedur.  "Kita ada panggilan pertama, kedua, untuk ketiga ada perintah membawa," ujarnya.
 
Penyidik Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri menetapkan Hary sebagai tersangka dalam kasus dugaan mengancam Kepala Subdirektorat Penyidik Jaksa Agung Muda Pidana Khusus Yulianto melalui media elektronik.
 
Hary Tanoe diduga melanggar Pasal 29 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) mengenai ancaman melalui media elektronik.
 
Yulianto tiga kali menerima pesan singkat dari Hary Tanoe: pada 5, 7, dan 9 Januari 2016.
 
Isinya, yaitu "Mas Yulianto, kita buktikan siapa yang salah dan siapa yang benar. Siapa yang profesional dan siapa yang preman. Anda harus ingat kekuasaan itu tidak akan langgeng. Saya masuk ke politik antara lain salah satu penyebabnya mau memberantas oknum-oknum penegak hukum yang semena-mena, yang transaksional yang suka abuse of power. Catat kata-kata saya di sini, saya pasti jadi pimpinan negeri ini. Di situlah saatnya Indonesia dibersihkan."
 
Hotman Paris Hutapea, kuasa hukum Hary Tanoe, mengatakan pesan singkat yang dikirim Hary kepada Yulianto bersifat umum dan berkategori idealis.
 
"Hary dalam SMS-nya tak pernah menyebut Jaksa Yulianto sebagai 'yang salah'. Dan tak pernah menyebut sebagai 'yang tidak bersih'," kata dia.
 
Menurut Hotman, pesan pendek Ketua Umum Partai Perindo itu tak lebih sebagai imbauan. "Bahasa idealisme dari seorang politikus. Semua Presiden Indonesia saat kampanye mengucapkan kalimat seperti itu," ujar Hotma.
 
Hotman yakin ada motif politik dalam penetapan tersangka kliennya. 

Sumber : Metrotvnews

About the Author